Search in...

Memuat...

Rabu, 03 April 2013

Sistem Irigasi Subak Di Bali

 A.    Pengertian Sistem Irigasi Subak

Subak merupakan sistem irigasi yang di dalamnya menyangkut masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosio-agraris-religius, dan merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Banyak ahli yang menjabarkan mengenai pengertian sistem irigasi subak. Dari konsep pemikiran para ahli tersebut, adapun kajian mengenai sistem irigasi subak adalah cerminan konsep Tri Hita Karana (THK) yang pada hakikatnya terdiri dari ParhyanganPawongan, Dan PalemahanParhyangan ditunjukkan adanya pemujaan terhadap pura pada wilayah subak. Pawongan ditandai dengan adanya organisasi yang mengatur sistem irigasi subak,
dan palemahan yang ditandai dengan kepemilikan lahan atau wilayah di setiap subak. Ketiga hal ini memiliki hubungan yang bersifat timbal balik.
Sebenarnya, sistem irigasi subak telah ada sebelum sistem pertanian yang berkembang di Bali sejak tahun 678. Namun, subak tercatat di Bali sejak tahun 1071. Peran serta pengaruh raja-raja di Bali sangat mempengaruhi perubahan yang terjadi pada sistem irigasi subak
B.     Wujud Tri Hita Karana Dalam Subak
Wujud Tri Hita Karana dalam sistem irigasi subak di Bali merupakan sistem yang bersifat sosio-teknis, yang teknologinya sudah menyatu dengan sosio-kultural masyarakat setempat. Adapun perwujudan konsep THK dalam operasional sistem irigasi subak antara lain :
a.   Subsistem budaya yang dicerminkan dengan pola pikir pengelolaan air irigasi yang dilandasi dengan keharmonisan dan kebersamaan.
Contoh: Menyelenggarakan upacara mendak toya, membuat Pura bangunan suci (Bedugul) di lahan yang tersisa pada lokasi bangunan-bagi.
b.   Subsistem sosial yang dicerminkan dengan adanya organisasi subak yang disesuaikan dengan kepentingan petani, sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Dan konflik yang terjadi di dalam subak dapat dihindari agar tercipta keharmonisan.
Contoh: Pembuatan awig-awig (peraturan) agar dapat dipatuhi oleh semua anggota dan pengurus subak, adanya rapat yang dilakukan untuk mencapai kesepakatan bersama.
c.   Subsistem artefak/kebendaan yang dicerminkan dengan ketersediaan sarana jaringan irigasi yang sesuai dengan kebutuhan subak, pendistribusian air secara adil, dan proses peminjaman air. Sehingga, konflik-konflik dapat dicegah.
Contoh: Pembagian air menggunakan sistem tektek, sistem suplesi dan drainasi yang terpisah dalam satu kompleks sawah yang dikenal dengan “one inlet and one outlet system”, dan adanya pemberian tambahan air seandainya terjadi suplai air yang kurang di lahan petani.
C.    Kelembagaan Sistem Subak
Subak merupakan perkembangan dari beberapa tempek yang memiliki luas areal yang besar  serta sulit untuk dikooordinasikan dan subak memiliki otonomi ke dalam dan ke luar. Tempek merupakan suatu komplek persawahan yang mendapat air irigasi dari satu sumber tertentu. Akan tetapi, setiap tempek hanya memiliki otonomi ke dalam. Subak-subak yang memperoleh air dapat bergabung menjadi subakgede. Subak gede pun bisa berkembang menjadi subak yang lebih besar, yaitu subak agung. Subak agung yang ada di Bali terdapat di Subakagung Yeh Ho di Kabupaten Tabanan dan Subakagung Gangga Luhur di Kabupaten Buleleng. Selain perkembangan subak, selama ini ternyata terjadi pengurangan luas areal sawah (ha) dari tahun 1997 hingga 1999 akibat pengaruh globalisasi di Bali. Akan tetapi, seiring dengan hal tersebut jumlah subak tidak mengalami penurunan sejak tahun 1997 hingga tahun 1999. Sebab adanya perubahan areal sawah yang beralih fungsi menjadi hotel dan restoran menjadi pilihan karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Hal ini tentunya mengancam keberadaan sistem irigasi di Bali.
D.    Aspek Organisasi Subak
Organisasi subak berbentuk tim kerja yang berorientasi pada kecapaian tujuan yang diinginkan dalam organisasi subak. Berkaitan dengan cara sistem subak mengatur penyediaan air, maka pada suatu subak di daerah tertentu menunjuk seorang petilik (pengawas air) yang bertugas mengawasi pendistribusian dan alokasi air di kawasan tersebut secara rutin.
Di dalam subak. peranan pengurus (pekaseh) subak menentukan keberhasilan subak yang dipimpinnya tersebut. Sebab ia yang mengatur air irigasi pada saat kondisi air yang kritis, menetapkan hari baik untuk menanam tanaman tertentu, merencanakan upacara tertentu. Pada dasarnya, pengurus subak memimpin dan mengendalikan subak sesuai dengan prinsip-prinsip THK.
Adapun struktur organisasi sistem subak pada umumnya mampu mengemban tugas-tugas yang telah ditetapkan Disebutkan bahwa ketua subak (pekaseh) bertugas untuk mengkoordinasikan tugas-tugas ke luar dan ke dalam yang dibantu oleh sekretaris dan bendahara. Sedangkan kelian tempek (sub-subak) bertugas untuk mengkoordinasikan tugas-tugas ke dalam (ke wilayah masing-masing subak), dan tidak memiliki kewenangan berhubungan ke luar. Sementara peranan sedahan hanya berfungsi dalam pemungutan pajak (Pajak Bumi dan Bangunan), sedangkan sedahan-agung kini bergabung dengan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota, namun saat ini organisasi subak banyak berhubungan dengan Dinas Pekerjaan Umum berkaitan dengan pembangunan fisik di subak yang bersangkutan.
E.     Aspek Ritual
Tradisi serta upacara-upacara keagamaan di dalam subak terus dilakukan. Untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan, subak biasanya memungut iuran dari anggota subaknya. Di Bali, upacara keagamaan ini tidak pernah surut dilakukan karena merupakan faktor penting dalam sistem subak. Pada hakikatnya, kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam sistem subak merupakan implementasi dari ajaran Tri Hita Karana. Sebab, untuk menumbuhkan kelembagaan petani yang kuat, tidak cukup hanya pendekatan sosio-teknis, tetapi harus dikaitkan pula dengan konteks kehidupan sosial-budaya masyarakat.
Adapun kegiatan ritual yang biasanya dilakukan oleh subak antara lain :
-        Tingkat Individual : Upacara mengikuti siklus hidup (life cycle) padi. Upacara ini dilakukan sejak mulai air masuk ke petak sawah hingga padi disimpan).
  1. Ngendagin        : Air mulai masuk ke sawah
  2. Ngurit              : Tabur benih/ pembibitan
  3. Newasen          : Tanam padi
  4. Neduh             : Umur padi 35 hari
  5. Biukukung       : Padi bunting
  6. Banten Manyi  : Panen
  7. Mantenin         : Padi disimpan di lumbung
-        Tingkat Tempek, Subak, Subak Gede :
  1.  Mendak toya      : mencari air pertama sebelum musim tanam padi
  2.  Mebalik sumpah : mengupacarai padi ketika berumur dua minggu
  3. Merebu              : Dilakukan menjelang panen
  4. Ngusaba             : Dilakukan sehabis panen
  5. Nangluk merana  : Dilakukan upacara ketika padi mulai diserang hama dan penyakit yang dipandang membahayakan
  6. Pakelem             : Dilakukan sewaktu-waktu dan dapat dilakukan bergabung bersama subak lain
  7.  Odalan              : Dilakukan diberbagi pura yang disungsung subak (Pura Bedugul, Ulunsui)
F.     Aspek Pendistribusian Air
Sejak akhir tahun 1970-an proyek-proyek jaringan tersier yang dilaksanakan Dep.PU pada sistem subak di Bali, dengan mengubah sistem bangunan bagi (tembuku) dari sistem numbak menjadi sistem ngerirun telah menimbulkan konflik, karena perubahan itu tidak serasi dengan sosio-kultural masyarakat setempat. Namun demikian sistem subak sebagai lembaga adat yang otonum tetap dapat mengatur dirinya sendiri tanpa menimbulkan konflik, karena tetap mengusahakan adanya harmoni dengan lingkungan sekitar.
Adapun artefak yang dimanfaatkan oleh sistem subak di Bali untuk membantu kelancaran pendistribusian air ialah sebagai berikut:
-        Bendung (empelan), yang memiliki fungsi sebagai lokasi tempat masuknya air yang akan menuju areal subak. Lokasi bendung pada dasarnya ditempatkan pada kawasan tikungan sungai, pada kawasan sungai yang lokasinya paling dekat dengan hamparan sawah petani yang bersangkutan. Sementara itu, pada setiap lokasi bangunan bendung dibangun sebuah pura yang disebut Pura Empelan, yang dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan upacara mendak toya/ magpag toya. Dan penanggungjawab bendung adalah klian subak bersama-sama dengan seluruh anggota subak.
-        Trowongan (aungan), memiliki fungsi sebagai tempat mengalirnya air irigasi menuju ke saluran tersier. Trowongan akan dibangun oleh petani jika mereka gagal memanfaatkan saluran irigasi yang terbuka. Dalam proses pembuatan trowongan para ahli bangunan (undagi) akan berusaha memilih lintasan trowongan pada lahan yang terdiri dari batu, batu pada, atau tanah yang cukup keras untuk menyangga tanah yang ada di atas bangunan. Adapun penanggungjawab bendung adalah kelian subakbersama-sama dengan seluruh anggota subak.
-        Saluran irigasi (telabah), memiliki fungsi sebagai tempat mengalirnya air irigasi yag akan menuju ke petak sawah petani. Dan penaggungjawabnya adalah kelian tempekbersama-sama petani yang berkepentingan dengan saluran yang bersangkutan.
-        Bangunan bagi (tembuku) pada sistem subak dibangun dengan konsep proporsional dari bangunan-bagi hulu hingga hilir. Unit ukuran yang digunakan adalah tektek. Tektek merupakan sistem bagi habis antara jumlah air yang masuk ke subak yang bersangkutan dengan jumlah areal sawah yang ada di subak bersangkutan. Sistem tektek di Bali telah mengalami modifikasi (ini terjadi di Subak Sungsang) menjadi sistem sentimeter. Namun, pelaksanaannya tetap dalam konsep proporsional. Bangunan-bagi pada jaringan tersier dibuat tidak permanen agar dapat memudahkan dalam proses pinjam air irigasi.
Di Bali, bangunan-bagi diterapkan dengan sistem subak karena topografi Pulau Bali umumnya bergelombang, namun ada beberapa kelemahan dari sistem ini, seperti : adanya kemungkinan kecepakatan air yang tidak sama pada bangunan-bagi, adanya kemungkinan tenggelamnya bangunan saluran irigasi di saat tertentu, ada kemungkinan lahan yang digunakan tidak efisien, jika dibandingkan dengan sistem box, sistem numbak dirasa lebih efektif.
G.    Aspek Penggunaan Sumber Daya dalam Subak
Umumnya sumber daya yang biasanya diperlukan dalam subak ialah tenaga kerja dan dana. Untuk tenaga kerja, biasanya menggunakan tenaga dari anggota subak itu sendiri maupun tenaga dari luar anggota subak (seperti memakai jasa buruh untuk memanen padi). Untuk dana, umumnya dihimpun oleh subak secara internal. Adapun sumber dana antara lain :
-  Sarin Tahun (iuran rutin) : besarnya didasarkan atas luas lahan sawah.
-  Paturun (iuran insidental) : besarnya sesuai kebutuhan.
-  Kontrak bebek                 : sehabis panen padi, subak mengontrakkan sawahnya kepada pengembala itik
-  Pengoot                           : iuran anggota pasif
-  Dedosan (denda)           : pelanggaran awig-awig, besarnya diatur di dalam awig-awig
-  Bantuan Pemerintah
-  Sumbangan sukarela
Dana-dana tersebut digunakan untuk pemeliharaan fasilitas irigasi subak, perbaikan fasilitas irigasi, pemeliharaan pura subak, perbaikan pura subak, dan upacara keagamaan.
H.    Aspek Penanganan Konflik
-   Adapun sumber konflik yang biasanya terjadi dalam subak ialah :
1.   Masalah air
2.   Pola tanam
3.   Pepohonan
4.   Hewan peliharaan yang merusak lahan pertanian.
5.   Dan lain-lain
-        Konflik ini dapat terjadi :
1.      Antar anggota subak
2.      Antar anggota subak dengan subak
3.      Antar subak
Konflik dapat diatasi oleh subak itu sendiri dengan cara musyawarah dan merapatkan, mendiskusikan masalah-masalah yang terjadi antar pihak-pihak terkait.

Sistem Subak Sebagai Sistem Irigasi Masa Depan
Kadek Fendy Sutrisna
17 Juli 2011
“Museum Subak Mandala Mathika terdapat di desa Sungulan Tabanan”
http://blog.ub.ac.id/daningfpub/files/2012/06/terasiringubudbali1-300x201.jpg
SISTEM subak merupakan suatu warisan budaya Bali yang berupa suatu sistem irigasi yang mengatur pembagian pengelolaan airnya yang berdasarkan pada pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama.
Pengelolaan sistem irigasi konvensional cenderung hanya berdasarkan pada konsep-konsep efisiensi berdasarkan aturan-aturan formal, dengan pola pikir ekonomik.
Sementara itu, konsep-konsep efektivitas, nilai-nilai religi, dan pengelolaan sistem irigasi yang berlandaskan harmoni dan kebersamaan, ditata secara baik dan fleksibel pada sistem subak di Bali ini.
Latar belakang didirikannya organisasi ini beberapa ribu tahun yang lalu karena lingkungan topografi dan kondisi sungai-sungai di Bali yang curam. Hal ini menyebabkan sumber air pada suatu komplek persawahan petani umumnya cukup jauh dan terbatas.
Untuk dapat menyalurkan air ke sebuah kompleks persawahan, mereka harus membuat terowongan menembus bukit cadas. Kondisi inilah yang menyebabkan para petani Bali menghimpun diri dan membentuk organisasi Subak.
Subak dipimpin oleh seorang Kelian Subak atau Pekaseh yang mengoordinasi pengelolaan air berdasarkan tata tertib (Bahasa Bali: awig-awig) yang disusun secara egaliter.
Saat irigasi berjalan baik, mereka menikmati kecukupan air bersama-sama. Sebaliknya, pada saat air irigasi sangat kecil, mereka akan mendapat air yang terbatas secara bersama-sama.
Jadwal tanam dilaksanakan secara ketat. Waktu tanam ditetapkan dalam sebuah kurun tertentu. Umumnya, ditetapkan dalam rentang waktu dua minggu. Petani yang melanggar akan dikenakan sanksi.
Untuk memperoleh penggunaan air yang optimal dan merata, air yang berlebihan dapat dibuang melalui saluran drainasi yang tersedia pada setiap komplek sawah milik petani.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah kekurangan air yang tidak terduga, mereka melakukannya dengan cara-cara seperti:
  1. Saling pinjam meminjam air irigasi antar anggota subak dalam satu subak, atau antar subak yang sistemnya terkait.
  2. Melakukan sistem pelampias, yakni kebijakan untuk memberikan tambahan air untuk lahan sawah yang berada lebih di hilir. Jumlah tambahan air ditentukan dengan kesepakatan bersama.
  3. Melakukan sistem pengurangan porsi air yang harus diberikan pada suatu komplek sawah milik petani tertentu, bila sawah tersebut telah mendapatkan tirisan air dari suatu kawasan tertentu di sekitarnya.
  4. Jika debit air irigasi sedang kecil, petani anggota subak tidak dibolehkan ke sawah pada malam hari, pengaturan air diserahkan kepada pengurus Subak.
Kelemahan paling menonjol dari sistem irigasi tradisional adalah ketidakmampuannya untuk membendung pengaruh luar yang menggerogoti artefaknya, yang terwujud dalam bentuk alih fungsi lahan, sehingga eksistensi sistem irigasi tradisional termasuk didalamnya sistem subak di Bali menjadi terseok-seok.
Beberapa tahun yang lalu, revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi tradisional, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Metode yang baru pada revolusi hijau ini pada awalnya menghasilkan hasil panen yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air.
Sistem Subak memiliki karakteristik unik apabila dibandingkan dengan sistem tradisional lainnya, yaitu selalu memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul yang khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Tuhan. Keberadaan pura-pura ini sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih para petani yang ditujukan untuk memuja Dewi Sri sebagai manifestasi Tuhan YME sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.
Dengan selalu mengutamakan pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama diharapkan sistem irigasi tradisional subak ini dapat membendung pengaruh luar untuk menjaga eksistensinya di masa yang akan datang.
Permasalahan Masa Kini Sistem Subak : Pengaruh Faktor Ekonomi
Penelitian yang dilakukan Sigit Supadmo Arif, dkk. terhadap sistem subak di Bali menunjukkan bahwa faktor ekonomi sangat mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga tersebut. [2,3]
Oleh karenanya, antisipasi yang harus dilakukan untuk mampu melestarikan sistem subak di Bali adalah dengan melakukan pendekatan-pendekatan ekonomi.
Misalnya, pertama, memperkuat lembaga ekonomi seperti koperasi tani, lembaga perkreditan subak, dan lain-lain yang ada pada sistem subak. Langkah kedua adalah dengan meringankan beban ekonomi anggota subak. Langkah ketiga adalah dengan berusaha meningkatkan semangat kerja para pekaseh untuk mengurus pengelolaan sistem irigasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan honorarium bagi para pekaseh.
Dalam kaitan dengan permasalahan ekonomi ini, tentu saja kemauan politik dan uluran tangan dari pihak Pemprop Bali sangat penting dalam menjaga keberlangsungan sistem subak di Bali. Sejarah subak di Bali pada masa kerajaan terdahulu terlihat jelas peranan raja-raja sangat berpengaruh dalam perkembangan dan keberlangsungan subak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
KESIMPULAN
Subak sebagai lembaga yang berwatak sosio-kultural memiliki kekuatan dan kearifan, yakni fleksibel dan mampu menyerap teknologi pertanian maupun menyerap kebudayaan yang berkembang pada masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, setiap kegiatan dalam subak selalu mencerminkan keseimbangan hubungan yang harmonis dan serasi sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu Tri Hita Karana.
Bali mempunyai potensi besar dalam bidang pertanian, hal itu dilihat dari posisi geografis dengan empat danau besar yang mampu memberikan pembagian air secara merata. Tiga buah danau yang meliputi Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan berfungsi sebagai sumber air bagi Bali tengah, barat, dan selatan. Sementara Danau Batur di Bangli sebagai sumber air di Bali timur.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat menyebabkan sistem pertanian di Bali berubah dari sistem tradisional ke sistem pertanian konvensional, sekaligus tanah yang tadinya subur berubah menjadi tidak subur karena banyak keanekaragaman hayati hilang. Tanaman jeruk yang tadinya menjadi tumpuan hidup masyarakat tidak lagi bisa berkembang, dan mangga yang tadinya manis berubah menjadi masam. Oleh sebab itu, pengembangan pertanian organik yang dirintis Pemerintah Provinsi Bali akan mampu mendukung upaya mengembalikan kesuburan tanah, sekaligus pelestarian alam dan seni budaya, terutama yang terkandung dalam subak.

                                           

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Loading...

Seputar Dunia Teknik Sipil

Goal.com News - Indonesia

mau download sofware terupdate dan gratis ? ne gw kasih dech :

Share it

Total Tayangan Laman