Selasa, 10 Mei 2011

Tangga, dari Penghubung Hingga Penghias Ruangan

Tangga, dari Penghubung Hingga Penghias Ruangan
Tak hanya fungsional, tangga juga dapat mempengaruhi susunan ruangan. penempatan tangga yang tak pas dapat membuat ruangan sumpek. Tangga tak hanya sekadar sebagai mediasi antara tempat yang berbeda ketinggian. Tapi, tangga bisa ikut mempengaruhi susunan bangunan rumah dan suasana ruang. Ia dapat menyenangkan pemandangan ruangan, namun dapat juga mengganggu ruangan. Karena tangga itu juga sekaligus bisa menjadi penghias rumah, tak hanya fungsional saja.

Rumah yang terbuat dari batu misalnya, memiliki beberapa model tangga sederhana, seperti tumpukan batu yang disusun mendaki dan terletak diluar rumah atau ditempelkan di dinding dalam rumah. Tipe tangga ini telah mendarah daging di dataran Inggris utara dan Skotlandia selama lebih dari 500 tahun. Pada dasarnya, salah satu fungsi tangga adalah menghubungkan ruang-ruang yang terpisah dalam rumah.
Yang terpenting, buatlah tangga yang proporsional dan sesuai dengan bentuk dan luas ruangan. Menurut Triatno Widjanarko, dosen arsitektur Fakultas Teknik UI, tangga harus didesain dan dilektakkan di tempat yang justru tak menambah sempit ruangan. ”Kalau rumahnya kecil, sebaiknya buatlah tangga yang bentuknya searah dengan dinding,” katanya. Dapat juga, sambung Triatno, untuk memanfaatkan kolong yang terbentuk dengan adanya tangga sebagai tempat penyimpanan atau untuk ruang khusus lainnya.
Tangga kayu
Meski bangunan bertingkat telah menjadi ciri khas dari abad pertengahan, namun rumah-rumah di zaman ini masih banyak yang menggunakan tangga berpindah. Padahal saat itu, lantai atas lebih sering digunakan ketimbang ruang penyimpanan. Mungkin ini karena tangga berpindah dinilai lebih praktis karena hanya memakan sedikit tempat dan mudah dipindahkan. Saat tangga kayu muncul untuk pertama kalinya pada awal abad ke-16, ukurannya masih lebih kecil ketimbang tangga permanen. Anak tangganya terbuat dari potongan kayu oak yang menghadap tembok dan menyisakan ruang kosong dibawah tangga.
Ketika rumah mulai beralih fungsi menjadi tempat pertunjukan atau galeri, barulah disadari bahwa tangga dapat dirancang menjadi lebih cantik. Secara bertahap, tangga mulai dirancang lebih besar. Meski masih terbuat dari kayu oak, namun tangga sudah mulai menjadi bagian dari kesatuan rumah itu sendiri. Anak tangga sendiri dapat berupa kombinasi yang padat atau merupakan beberapa anak tangga yang terpisah. Agar orang yang menaikinya tidak jatuh, dirancanglah dinding dan anak tangga yang kokoh. Puncak pegangan ini sendiri terdapat pada atap dan menjadi bagian yang mendukung lantai secara struktural. Tak heran bila dinding tangga juga diukir seragam dengan bagian atap.
Tangga abad ke-17
Pada tahun 1605 di Knowle House, Kent, Inggris, terdapat berbagai perkembangan desain tangga pada beberapa rumah mewah dan rumah para petani yang kaya. Pada saat yang bersamaan pula, lahan yang tersedia untuk rumah makin sempit. Mau tak mau orang harus membangun rumahnya ke atas secara bertingkat. Tangga sendiri dapat diartikulasikan dalam rancangan yang cantik untuk mengantarkan ke ruang galeri yang berada di atas. Dinding anak tangga (birai) juga dihiasi dengan lukisan berwarna. Terkadang, puncak birai juga melambangkan simbol kepemilikan si empunya rumah. Kini, banyak birai tangga berbentuk persegi panjang yang diukir, sementara susuran tangganya sendiri berbentuk datar.
Inigo Jones memperkenalkan tangga bergaya Italia dengan anak tangga dari kayu marbel dan pegangan besi yang cantik. Tangga gaya Jones ini kemudian berkembang bersamaan dengan penggunaa besi sebagai bahan baku birai tangga sejak masa Restorasi. Umumnya tangga buatan Jones berbentuk melingkar ataupun kaku. Pada akhir abad ke-17 tangga mulai menempati posisi penting dalam dunia arsitektural. Ia dipercaya sebagai penghubung menuju hall atau aula yang merupakan ruangan terbesar dalam rumah.
Tangga pada abad ke-18
Pada tahun 1720 di Inggris dan Amerika, arsitek Pallandia merancang konsep aula yang megah dan mengesankan. Konsep ini sendiri telah direalisasikan pada beberapa rumah mewah di sana. Saat inilah tangga mulai naik pamor. Mulai dari anak tangga yang terbuat dari kayu marbel, diapit oleh birai besi yang indah hingga atap yang khusus dirancang untuk menaungi anak tangga. Dinding sepanjang tangga juga mendapat perlakuan khusus, misalnya dihiasi dengan lukisan bergaya klasik.
Saat itu, banyak rumah ‘orang kaya baru’ yang berukuran kecil, namun tetap merancang tangga mewah pada bagian depan rumah. Birai tangga juga dirancang lebih baik dengan menambahkan hiasan setiap dua atau tiga anak tangga. Sementara susunan tangga dibuat lebih ramping untuk memberikan efek terang.
Paduan Barley sugar yang diperkenalkan pada tahun 1690 segera digilai. Dengan birai tangga yang lebih modis, gaya ini pun menjadi tren dalam waktu yang lama. Meski banyak desain kreatif yang muncul pada pertengahan abad ke-18, model ini tetap memiliki banyak peminat. Di Inggris, birai tangga yang digemari adalah berbentuk vas bunga, dipadukan dengan susuran tangga bergaya klasik dan elegan. Tak ketinggalan besi tempaan untuk mempercantik tangga. Tak heran bila di Amerika model Barley sugar menjadi begitu popular hingga akhir abad ke-18.
Tangga pada abad ke-19
Model birai yang rumit surut pada akhir abad ke-18, digantikan dengan kayu dengan model kombinasi lurus dan melingkar. Pada abad ke-19, birai tangga juga menunjukkan status sosial. Misalnya, untuk rumah orang kaya, birainya ada setiap tiga anak tangga, sementara untuk rumah yang lebih sederhana, birainya hanya ada setiap dua anak tangga dengan bentuk lebih kecil.
Agar tak berkesan seperti menjadikan tangga seperti penjara, maka juga digunakan paduan kayu mahogani yang halus dengan karakteristik berbentuk oval. Banyak rumah yang punya bagian belakang yang gelap, sehingga tangga pun menjadi suram. Karena itu banyak tangga yang dilengkapi dengan birai-birai bersekat untuk menimbulkan efek lebih terang.
Pada rumah sederhana yang bergaya Victoria, ruang tamu biasanya berukuran kecil sehingga tangga kerap menjadi perhatian saat orang hendak ke lantai atas. Karena itu, di sepanjang tangga kerap ditemui ukiran atau tulisan hiasan yang indah. Model ini sendiri sempat menjadi tren pada abad-abad yang terdahulu. Sementara pada rumah pribadi yang nyaman, banyak ditemui model tangga kayu tradisional dengan model birai dan susuran yang sederhana.

1 komentar :

Loading...

Seputar Dunia Teknik Sipil

Goal.com News - Indonesia

mau download sofware terupdate dan gratis ? ne gw kasih dech :

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Total Tayangan Laman